Renungan17 Feb 2013 06:01 am
Adakalanya kita merasa bangga dan tertawa lepas, selepas-lepasnya. Mengabaikan mereka yang ada disekitar kita. Acuh, masa bodoh dan bahkan membusungkan dada lebih tinggi. Adakalanya juga kita merasa kecewa dan dikecewakan. Tertunduk lesu tanpa ekspresi sedikitpun. Memandang mereka yang ada disekeliling kita hanyalah musuh. Kenapa itu terjadi? hal ini tak lepas dari arogansi yang menyelimuti selaput mata kita. Hingga semuanya terlihat salah dan tak patut untuk digandeng duduk bersama. Semua orang pasti pernah merasakan apa yang dinamakan dengan kekecewaan itu. Entah menjadi bagian yang dikecewakan atau justru sebaliknya, menjadi bagian yang mengecewakan.
*****
Terlepas dari siapa yang salah dan patut dipersalahkan. Disini ada satu titik point penting yang seharusnya menjadi guru baik dalam menjalaninya. Bukan malah dijadikan sebagai penghimpit dan penghalang yang akan mengekang dalam keterpurukan. Sejauh mana rasa sabar yang kita miliki? Sejauh mana keberanian kita untuk tetap maju dan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya? Bukankah tidak ada yang tdak mungkin di dunia ini. Semuanya adalah mungkin dan pasti akan terjadi dengan catatan bagaimana kita untuk berusaha bangkit dari keterpurukan. Lupakanlah kekecewaan itu, biarkanlah menguap bersama awan yang membumbung tinggi. Ingatkah kita semua  pada Kartini? Ketika Kartini berkata “Habis Gelap Terbitlah Terang”, ini saatnya untuk bangkit dan menjadikan semua masalah yang ada sebagai batu loncatan yang bakal membawa kita ketempat yang lebih tinggi.
>>>> ==== <<<<
Bagaimana cara kita bersikap, bagaimana kita memposisikan diri dalam keadaan sulit ini, bagaimana kita melupakan masa lalu dan mencoba membuka tabir baru yang belum pernah orang lain sentuh selain kita. Tahukah apa yang akan terjadi saat kita kecewa? Benar sekali, suatu masalah baru yang akan muncul.  Dan kita sebenarnya harus menanggapi dengan tenang, karena yang namanya masalah itu tidak akan pernah hilang, sebelum kontrak kita berakhir di dunia ini. Lari dari masalah bukan merupakan solusi, karena masalah itu hanya akan hilang sebentar saja, setelah itu justru masalah kita akan bertambah banyak. Karena masalah yang lama belum hilang dan masalah yang baru juga keburu datang.
————- &————-
Semakin berat masalah yang kita hadapi harusnya membuat kita dewasa dalam menghadapi hidup. Bahakan lebih jauh lagi bahwa saat kita mendapatkan masalah tersebut kita akan mengeluarkan kemampuan terbaik kita, dan yakinlah pada saat itu semua semesta raya mendukung atau lebih terkenal dengan teori mestakung. Jadi sebenarnya dengan kita dihadapkan pada kondisi yang sulit maka seluruh kemampuan dan potensi kita akan tergerakan untuk keluar dan kemampuan tersebut bisa teraktualisasikan. Sehingga bila kita berhasil menyelesaikan masalah tersebut, artinya kita sudah bisa menjadi problem solver atas masalah yang dihadapi.
Memikul
*****
Jangan takut dalam hadapi masalah, cobalah mengakrabi masalah tersebut, dan cobalah berteman dengan masalah, karena esensi seorang teman akan membawa kita ke arah yang lebih baik pula, begitupula masalah, bila kita jadikan teman, yakinlah bahwa ia akan membawa kita ke kondisi yang lebih baik. Ingat sebuah pesan bahwa seorang nahkoda yang hebat lahir dari ombak yang besar. Daripada berteman angin malam (kaya lagu) lebih baik berteman dengan masalah.
Quote of the Day16 Feb 2013 10:07 pm

Percayalah !!!

Tanpa kecuali, pada hal kecil sekalipun. Maka, kau akan berada lebih dekat dengan apa yang kau inginkan.

-Rohmad Subhan-

Puisi16 Feb 2013 08:08 pm

Ibu,
Telah kupanjangkan doaku…
Telah kusuguhkan untukmu ibu…
Mungkin Tuhan menyenanginya…
Sehingga hatiku terasa akrab dengan-Nya…

Ibu…

Saat semua tak ada dan tak bisa…

Tak harus kucari pelukanmu…

Tak harus ku tunggu doa- doamu…

Bahkan bentangan bumi serasa tak berarti…

 

Ibu…

Kehangatan kasih itu selalu nyata terasa…

Mengalir deras…

Ibu…

Detak detik waktu membuatku rindu akan rahimmu…

Tak perlu nada yang berlebihan

Irama jantung itu begitu indah dan dirindui

Dipelukmu ku bisa kembali merasakannya…

 

Ibu

Bulan dan langit yang ku tatap tadi malam…

Adalah bulan yang sama dengan yang diatas rumah kita…

Ibu

Aku telah biaskan kasih dan rindu ini pada langit

Ibu

Telah ku titipkan salamku untukmu pada bulan dan bintang…

Dan kubisikkan pada hembusan angin…

 

Terimakasih ibu…

Untuk pahit getir yang kau tempuh untukku

Begitu tegas waktu menyita masa…

Mengambil cerita-cerita…

Mengemasnya menjadi kenangan-kenangan…

 

Jari-jari lentik tu sekarang hanya sempat bermain dengan leher pena saja…

Mengukir ilmu, formula alam ataupun cerita hati…

 

Ibu..

Karena ibu…

Aku ada…

Ibu… 

Semua tak akan lahir tanpamu…

Ibu…

Rindu dan doa terbaik selalu untukmu…

 

Noktah : [ibu] Ananda Rindu

Didesikasikan untuk ibu tercinta, yang hanya bahagia ketika melihat anaknya tersenyum.

« Halaman Sebelumnya