Februari 2013


Renungan18 Feb 2013 04:39 am

Hidup memang tak lepas dari misteri, banyak hal yang sampai saat ini belum terpecahkan, banyak kejadian yang sampai saat ini sulit untuk menemukan jawabannya. Mungkin karena itulah manusia dituntut harus terus belajar untuk menyibak tabir misteri yang belum terbuka. Judul tulisan di atas mungkin sedikit aneh dan “provokatif”, judul tersebut tidak bisa dicerna secara mentah-mentah, harus ada pemahaman yang lebih, tentunya dengan membaca kelanjutan dari tulisan ini.

Meminta Kepada Tuhan

Ya memang saya akui bahwa selama ini yang saya rasakan dan saya pahami, bahwa Tuhan tidak pernah memberi apa yang saya minta, bahkan saya kadang merasa aneh ketika saya meminta kemudahan dalam segala hal. Ternyata malah yang datang kesulitan yang bertubi-tubi menghujam. Hal ini jelas membuat saya frustasi bahkan itu tak jarang membuat saya berburuk sangka pada Tuhan. Menghujat Tuhan dengan kata-kata kotor sekalipun. Bahkan saya tak jarang berfikir dan bertanya bukankah Tuhan Maha Mendengar, tapi kenapa apa-apa yang saya minta jarang langsung dikabulkan. Saya yakin banyak orang merasa seperti apa yang saya rasakan, terus apa yang seharusnya apa yang saya dan anda lakukan agar Tuhan mendengar dan mengabulkan doa kita?

Perasaan itulah yang sering muncul, dan semakin disesali justru akan semakin membuat kita terpuruk. Coba pernah tidak anda mengalami ketika anda memohon kepada Tuhan kekuatan, Tuhan malah memberi kita kesulitan. Ketika kita memohon untuk bisa menjadi manusia bijak, Tuhan malah memberi kita banyak masalah. Bahkan ketika saya meminta untuk menjadi manusia pemberani, Tuhan malah memberi kondisi sebagai seorang pengecut dan terburuk dibalik dinding tebal ketidak berdayaan, dan ketika saya memohon sebuah cinta, Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah. Tapi ada yang aneh disini ketika kita pikir lebih dalam, bahwa benar apa yang kita minta tidak di kasih, tetapi ternyata kita dikasih sesuatu masalah untuk kita hadapi.

Analogi sederhananya ketika kita minta makanan tapi ternyata Tuhan memberi kail buat kita. Bukan kah itu menjadi jawaban atas doa-doa kita selama ini, pernah tidak terbanyangkan kalau kita hanya diberi ikan, pasti ikan itu habis dan kita pasti akan meminta lagi. Beda dengan kita diberi kail, maka kail itu akan bisa menghidupi kita. Itulah mungkin jawaban Tuhan atas doa-doa saya selama ini, bahwa “ TUHAN TERNYATA TIDAK PERNAH MEMBERI APA YANG SAYA MINTA TETAPI TUHAN MEMBERI APA YANG SAYA BUTUHKAN”. Amazing,… sungguh Tuhan yag Maha Tahu akan semua hal.

Tuhan memberi semua kebutuhan yang saya minta, dan hal ini akan diketahui bagi mereka yang mau membuka hati dan tidak berburuk sangka pada Tuhan, bukankah Tuhan adalah sebagaimana prasangka mahluknya, kalau kita berprasangka baik, maka baik pulalah, begitu sebaliknya. Makanya cobalah mengungkap hikmah dibalik fakta, walaupun itu kedengarannya klasik, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba…SALAM SUKSES !!!

 

1000 Warna18 Feb 2013 03:34 am

Apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup? Hidup yang terangkai menjadi sebuah sistem bernama “Kehidupan”. Hanya sekedar hidup untuk menjadi yang biasakah? atau menjadi luar biasa dan dipandang hormat oleh semua orang?

Bukankah hidup ini lebih indah jika kita bermanfaat untuk orang lain tanpa harus membeda-bedakan dan membuat beda?

Betapa bahagianya jika melihat orang lain tersenyum karena kita. Meski hal kecil sekalipun yang telah kita perbuat. Menjadi bermanfaat tanpa harus mengharap balas yang akan didapat.

Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjuangan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang harus di perjuangkan. Maka dari itu, hari hari dalam hidupnya akan dijalani dengan berjuang. Sedangkan orang yang meyakini bahwa hidup adalah tantangan, akan melihat bahwa hidup yang dijalaninya adalah tantangan yang harus di pecahkan. Dia akan menjalani kehidupannya dengan “memecahkan tantangan”. Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjalanan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang harus dicapai tujuannya. Maka dari itu dia akan menjalani kehidupannya dengan “berjalan” diatasnya.

Ingat ini : Tuhan telah menjelaskan melalui firman-Nya ; Q.S. Al – Hadid ( 57 ) Ayat 20 (Terjemahannya) :

Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

Note that : HIDUP ADALAH PERMAINAN. Waw, apakah ini berarti yang kita lakukan selagi hidup ini adalah bermain dan bersenang – senang?

——– coba renungkan ——-

Quote of the Day18 Feb 2013 03:27 am

Sebuah Keramat :

Urusan kita dalam kehidupan bukanlah untuk bersaing, menang dan mendahului orang lain tetapi bersaing dengan diri sendiri, mendahului diri sendiri, berpacu dengan diri sendiri. Potensi atau bakat yang Tuhan ciptakan cukup untuk memulainya, tinggal berjuang, memupuk dan mengarahkannya. Kalau orang lain bisa kenapa diri ini tidak?

Renungan18 Feb 2013 03:20 am
*tersenyumlah setiap saat
Apa bakat yang anda miliki?
Berselancar, menyanyi, menari, meniup seruling atau memanjat tebing tinggi tanpa tali keselamatan kah?
Bakat….bakat….bakat…bakat….bakat
Apa yang sebenarnya tentang “bakat” itu?
Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna, dengan keunikan masing-masing dan dengan caranya sendiri. Dia tidak akan meninggalkan anda dan saya, karena Dia bukan seperti watch maker yang membuat lalu diserahkan pada orang lain untuk mengurusnya. Tuhan punya mekanisme tersendiri, Dia menciptakan apa yang disebut bakat, yakni potensi dasar yang dimiliki setiap anda dan saya.
Dengan bakat manusia dapat berkembang, dengan bakat manusia dapat bertahan, dengan bakat manusia dapat melakukan banyak hal, dengan bakat pula manusia dapat meningkatkan kemampuannya. Karena itu jangan pernah merasa diri tidak berharga, setiap orang punya bakat, kalau orang lain dapat melakukan sesuatu,andapun pasti bisa melakukannya. Pikirkanlah itu.

Apa bakat anda?

Bukanlah situasi dan kondisi yang anda, melainkan apa yang anda buat terhadap situasi dan kondisi itu, yang akan menentukan apa yang akan anda capai dengan hidup anda. Itu semua dipengaruhi oleh bakat yang ada dalam diri. Karena itu yang perlu anda lakukan adalah cuma memupuk dan mengarahkan bakat yang ada, setelah itu nikmatilah, anda akan merasakan bahwa segalanya akan berjalan dengan mudah, segalanya akan berjalan lancar dan segalanya akan respek dengan diri anda. Seiring dengan berjalannya waktu dan jam terbang anda, bakat akan terlihat mengkilat dan mengkilau sehingga orang disekitar akan merasakannya, akan melihatnya dan akan percaya dengan kemampuan anda.

Quote of the Day18 Feb 2013 03:08 am

Jenius ?

Jenius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen adalah keringat. Karena itu teruslah maju jangan hiraukan pandangan negatif, perlu anda ingat kembali bahwa layang-layang mampu terbang tinggi karena mampu melawan angin bukan menuruti angin. (Thomas Alva Edison)

Renungan18 Feb 2013 03:05 am
*tersenyumlah setiap saat
Tentunya anda pernah mendengar nama Thomas Alva Edison dan George Westinghouse. Dua nama yang telah disebutkan bukanah orang yang sukses dengan kelebihan dan kesempurnaan yang diturunkan begitu saja oleh Tuhan pencipta alam, melainkan mereka adalah orang-orang yang hidup dari sikap yang bermental baja, ulet dan pantang menyerah meski keterbatasan yang mereka miliki.

Thomas Alva Edison

Thomas Alva Edison, dia diangap bodoh oleh lingkungannya terutama lingkungan sekolahnya. Dia akhirnya keluar dari sekolah karena lingkungan sekolah yang sama sekali tidak cocok untuknya. Tapi berkat kerja keras, berani mencoba dan berulang-ulang. Sejarah membuktikan, banyak hal paten dimilikinya dan terutama karyanya yang monumental adalah lampu listrik yang sampai sekarang ini kita pakai sebagai penerangan di gelapnya malam. Subhanallah….!!!

George Westinghouse, dia juga dianggap bodoh dan lamban oleh pengajarnya dan diminta meninggalkan perguruan tinggi. Meskipun awalnya mengalami hal-hal yang negative dari lingkungannya ternyata dia memperoleh hak paten atas kreativitasnya lebih dari 400 buah. Dia juga berhasil membina kerajaan bisnisnya yang saat itu tidak banyak tandingannya. Diakhir hayatnya dia mengalami kelumpuhan tapi tetap memimpin proyeknya dari atas kursi roda dan meninggal dikelilingi sketsa-sketsa proyek terakhirnya.

George Westinghouse

Apa pelajaran berharga yang dapat kita cermati dan mengambilnya sebagai pembelajaran yang berharga dari kedua kisah orang yang dianggap bodoh diatas? Orang-orang yang dianggap bodoh itu tidak mau diam saja. Mereka tidak mau menerima pendapat negatif dari orang sekitarnya, dan sebaliknya memilih untuk menjadi salah satu yang paling kaya dan paling kreatif dalam sejarah.
Saya bertanya, bagaimana dengan kita? orang yang lulus sekolah, entah itu SMP atau SMA bahkan lulus perguruan tinggi. Tidakkah kita berkaca pada mereka yang dianggap bodoh oleh lingkungannya? Apakah kita juga akan menerima hal-hal negatif begitu saja dari lingkungan sekitar? Mereka yang dianggap bodoh saja bisa menjadi besar, kenapa kita tidak bisa?

Saya berharap mudah-mudahan saya (penulis.red), anda memilih untuk mempercayai diri sendiri dan mengejar impian walaupun orang lain memandang negatif tentang kemampuan anda.

Quote of the Day18 Feb 2013 02:54 am

Bukankah bunda datang membawa cinta?

Malaikat terbang dengan sayap-sayapnya

Diatas hati yang terus saja bergejolak —

Renungan18 Feb 2013 02:09 am
Ada tangan cinta yang menuntun kita sepanjang hidup kita. Ada seberkas cahaya yang menunjukkan jalan yang harus kita tempuh langkah demi langkah berturut-turut. Aku tahu bahwa tuhan yang mencintaiku bersamaku.
“engkau unik dan tiada duanya. Dari keabadian hingga keabadian, hanya ada satu dirimu. Aku mencintaimu dengan cinta yang abadi.”
  • Cinta pada dasarnya adalah suatu keputusan dan komitmen. Komitmen cinta memanggil kita untuk memberi perhatian dan kesedian mendengarkan.  Jika kita bertanya tentang kedudukan cinta dalam hidup kita, berarti kita juga bertanya: adakah orang lain yang kebahagiaannya sama pentingnya dengan kebahagiaan kita? Jika benar demikian, cinta telah mengisi kehidupan kita.  Wujud cinta adalah peka, bahwa orang  lain  juga membutuhkan, juga ingin berkembang, juga ingin bahagia.
Salah satu perwujudan utama cinta tak bersyarat adalah pembebasan: kita boleh jadi apapun yang kita ingnkan. Cinta tak bersyarat bersifat membebaskan, agar yang dicintai menjadi dirinya sendiri. Cinta membeikan akar dan sayap, rasa memiliki dan kebebasan.
Perenungan cinta memuncak dalm kesadaran suci akan yang ilahi dalam diri kita dan dalam segala hal, sutu pujian yang begitu mesra dan penuh kepasrahan dalam karya-Nya, dimana kita hidup, bergerak, dan ada.
Enta kenapa, bulan malam ini begitu…
Ada titik bua saat aku melihat itu
Ak tidak melihat apapun di samping dengan belakangnya
Hanya memori yang mengerjap-ngerjap muncul
Emosi itu merengek-rengek dan akhirnya lahir
Masih merasa bayi tawa gembiraku
Ini bukan bulanku!!! Ini bukan mimpiku!!! Dan ini bukan imajinasi yang meronta…
Menggelepar romantika di pinggiran jalan.. keropeng!!! Penuh nanah, darah…
Hitung saja, satu, dua, tiga, seratus….
Jari-jariku tak cukup

Bogor, 6 Maret 2011


1000 Warna17 Feb 2013 07:32 am
Aku masih juga menatapnya, tapi menyangsikan apakah keberadaanku di sini dirasakan olehnya. Ia masih sama seperti dahulu, sibuk memandangi dedaunan kering yang jatuh tertiup oleh angin.
           “Lihatlah, daun itu indah…” Sukma menunjuk daun-daun yang  menari karena ditiup angin. Aih, Sukma, lagi-lagi kau mengucap hal yang sama. Tak adakah kau merasakan sedikit empati kepadaku. Aku sudah bosan mendengarmu terus-menerus memuji keindahan daun itu.
“Hei, kenapa kau diam saja?” Sukma bertanya kepadaku. Ahh, ini pertanyaan yang diajukan karena untuk pertama kalinya aku tidak merespon pernyataan konyolnya tentang keindahan daun saat jatuh.
                “Aku lelah, Sukma… Aku ingin memetik bunga…” wajahku memelas berharap Sukma mengajakku beranjak dari tempat ini. Kulihat Sukma hanya tersenyum. Ah, sungguh aku sudah lelah menantinya mengajakku  pergi ke taman bunga itu. memetik catlea ungu dan krisan kuning yang sudah lama aku incar dari dulu. Sama sekali, Sukma tidak merespon permohonanku.

 
“Baiklah Sukma, izinkan aku untuk pergi sendiri memetik bunga di sana,” habis sudah kesabaranku. Akhirnya kuayunkan langkahku menuju taman bunga untuk memetik catlea dan krisan yang telah lama aku impikan. Dalam langkah menjauh darinya, kualihkan pandangan untuk sesaat melihatnya. Dan Sukma masih saja menatap dengan takjub dedaunan yang menari dalam iringan nyanyian angin. ***

Renungan17 Feb 2013 06:01 am
Adakalanya kita merasa bangga dan tertawa lepas, selepas-lepasnya. Mengabaikan mereka yang ada disekitar kita. Acuh, masa bodoh dan bahkan membusungkan dada lebih tinggi. Adakalanya juga kita merasa kecewa dan dikecewakan. Tertunduk lesu tanpa ekspresi sedikitpun. Memandang mereka yang ada disekeliling kita hanyalah musuh. Kenapa itu terjadi? hal ini tak lepas dari arogansi yang menyelimuti selaput mata kita. Hingga semuanya terlihat salah dan tak patut untuk digandeng duduk bersama. Semua orang pasti pernah merasakan apa yang dinamakan dengan kekecewaan itu. Entah menjadi bagian yang dikecewakan atau justru sebaliknya, menjadi bagian yang mengecewakan.
*****
Terlepas dari siapa yang salah dan patut dipersalahkan. Disini ada satu titik point penting yang seharusnya menjadi guru baik dalam menjalaninya. Bukan malah dijadikan sebagai penghimpit dan penghalang yang akan mengekang dalam keterpurukan. Sejauh mana rasa sabar yang kita miliki? Sejauh mana keberanian kita untuk tetap maju dan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya? Bukankah tidak ada yang tdak mungkin di dunia ini. Semuanya adalah mungkin dan pasti akan terjadi dengan catatan bagaimana kita untuk berusaha bangkit dari keterpurukan. Lupakanlah kekecewaan itu, biarkanlah menguap bersama awan yang membumbung tinggi. Ingatkah kita semua  pada Kartini? Ketika Kartini berkata “Habis Gelap Terbitlah Terang”, ini saatnya untuk bangkit dan menjadikan semua masalah yang ada sebagai batu loncatan yang bakal membawa kita ketempat yang lebih tinggi.
>>>> ==== <<<<
Bagaimana cara kita bersikap, bagaimana kita memposisikan diri dalam keadaan sulit ini, bagaimana kita melupakan masa lalu dan mencoba membuka tabir baru yang belum pernah orang lain sentuh selain kita. Tahukah apa yang akan terjadi saat kita kecewa? Benar sekali, suatu masalah baru yang akan muncul.  Dan kita sebenarnya harus menanggapi dengan tenang, karena yang namanya masalah itu tidak akan pernah hilang, sebelum kontrak kita berakhir di dunia ini. Lari dari masalah bukan merupakan solusi, karena masalah itu hanya akan hilang sebentar saja, setelah itu justru masalah kita akan bertambah banyak. Karena masalah yang lama belum hilang dan masalah yang baru juga keburu datang.
————- &————-
Semakin berat masalah yang kita hadapi harusnya membuat kita dewasa dalam menghadapi hidup. Bahakan lebih jauh lagi bahwa saat kita mendapatkan masalah tersebut kita akan mengeluarkan kemampuan terbaik kita, dan yakinlah pada saat itu semua semesta raya mendukung atau lebih terkenal dengan teori mestakung. Jadi sebenarnya dengan kita dihadapkan pada kondisi yang sulit maka seluruh kemampuan dan potensi kita akan tergerakan untuk keluar dan kemampuan tersebut bisa teraktualisasikan. Sehingga bila kita berhasil menyelesaikan masalah tersebut, artinya kita sudah bisa menjadi problem solver atas masalah yang dihadapi.
Memikul
*****
Jangan takut dalam hadapi masalah, cobalah mengakrabi masalah tersebut, dan cobalah berteman dengan masalah, karena esensi seorang teman akan membawa kita ke arah yang lebih baik pula, begitupula masalah, bila kita jadikan teman, yakinlah bahwa ia akan membawa kita ke kondisi yang lebih baik. Ingat sebuah pesan bahwa seorang nahkoda yang hebat lahir dari ombak yang besar. Daripada berteman angin malam (kaya lagu) lebih baik berteman dengan masalah.

Halaman Berikutnya »